
Matahari menyengat tubuhku
Padang pasir melahap liurku
Panas bumi meresap cairan tubuhku
Aku bukanlah unta yang memiliki persediaan banyak air
Mata bersinar
Hati berdebar
Tubuh bergetar
Darahku berguncang
Menghempaskan segala rasa yang berkecamuk dijiwa
Wahai sang kekasih pemilik cinta dan asmara
Akulah pencinta yang setia
Padang pasir melahap liurku
Panas bumi meresap cairan tubuhku
Aku bukanlah unta yang memiliki persediaan banyak air
Mata bersinar
Hati berdebar
Tubuh bergetar
Darahku berguncang
Menghempaskan segala rasa yang berkecamuk dijiwa
Wahai sang kekasih pemilik cinta dan asmara
Akulah pencinta yang setia
Bertahun-tahun merindukan asmara
Janganlah kau hancurkan Aku
Kasihanilah aku
Karena yang belas kasih itulah Kau
Iba mendengar bisikan batinku
Kasihanilah aku
Karena yang belas kasih itulah Kau
Iba mendengar bisikan batinku
Suara daun kering yanga jatuh dihutan mampu kau dengar
Bijih emas diperut bumi mampu kau lihat
Anak ikan didasar laut tak leka dari perhatianMu
Apalagi aku yang setiap waktu menghadapkan diri padaMu
Bijih emas diperut bumi mampu kau lihat
Anak ikan didasar laut tak leka dari perhatianMu
Apalagi aku yang setiap waktu menghadapkan diri padaMu
Dengarlah jeritan gemuruh hatiku
Tataplah aku dengan pancaran belas kasihMu
Wahai pencinta yang menatap kekasihnya
Ketika dianiaya kaumnya dan berlindung dikebun kurma
Tataplah aku dengan pancaran belas kasihMu
Wahai pencinta yang menatap kekasihnya
Ketika dianiaya kaumnya dan berlindung dikebun kurma
Berikanlah sepercik rahmatMu
Membasahi dahaga batin ini
Obatilah batinku yang remuk dan hampir hancur
Inilah asaku
Membasahi dahaga batin ini
Obatilah batinku yang remuk dan hampir hancur
Inilah asaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar